Senin, 20 Februari 2012

MAKALAH : Dinamika Perkembangan Industri Kerupuk Renjul Soreang (1982-2004)


MAKALAH
Dinamika Perkembangan
Industri Kerupuk Renjul Soreang
(1982-2004)

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Lokal
 
Disusun Oleh :

0906104          Taufik Hidayat
0907146          Fajar Desca Nugraha
0906275          Wisnu Adam Al Fikri
0906059          M. Nurkholis Majid

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah
Kerupuk merupakan makanan ringan yang biasa kita gunakan sebagai cemilan atau makanan pelengkap lauk pauk.  Krupuk renjul atau yang terkenal saat ini dengan nama "krupuk gurilem" adalah sejenis krupuk pedas khas dari soreang. Krupuk ini begitu “booming” di wilayah bandung raya hingga cianjur, sumedang, garut, tasik dan ciamis pada era 80an- 90an. Dan mulai mundur sekitar pada tahun 2000an. Tentu saja dalam perkembangannya sangat memiliki dampak social dan ekonomi bagi penduduk sekitar.
Kami akan meneliti tentang perkembangan krupuk renjul di soreang dari awal kemunculannya hingga perkembangannya sampai saat ini.

1.2.Rumusan Masalah
1.2.1.     Apa yang menyebabkan kemunculan kerupuk renjul di soreang?
1.2.2.     Apa faktor yang menyebabkan perkembangan produksi krupuk renjul di Soreang?
1.2.3.     Apa faktor yang menyebabkan kemunduran produksi kerupuk renjul di Soreang?
1.2.4.     Bagaimana dampak social ekonomi dari dinamika perkembangan kerupuk renjul bagi masyarakat di soreang?
1.3.   Tujuan Penulisan
1.3.1    Untuk mengetahui apa yang menyebabkan kemunculan kerupuk renjul di soreang.
1.3.2.   Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan perkembangan produksi kerupuk renjul di soreang.
1.3.3.   Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran produksi kerupuk renjul di soreang.
1.3.4    Untuk mengetahui dampak social ekonomi dari dinamika perkembangan produksi krupuk renjul bagi masyarakat soreang
1.4.   Metode Penulisan Makalah
Makalah ini membahas mengenai perkembangan kerupuk renjul disusun dengan metode wawancara dan observasi langsung ke sentra produksi krupuk renjul di kampung Buni Kasih Desa Jatisari Kecamatan Kutawaringin Kabupaten bandung.

1.5.   Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini menjelaskan tentang bagaimana latar belakang yang diungkapkan penulis tentang permasalahan yang dibahas.
BAB II PEMBAHASAN
Bab ini menjelaskan tentang bagaimana penulis menguraikan permasalahan yang dibahas sesuai dengan rumusan masalah yang ditulis.
BAB III PENUTUP
Bab ini menjelaskan tentang bagaimana kesimpulan penulis tentang permasalahan yang dibahas dalam makalah ini. 
BAB II
PEMBAHASAN 

2.1. Kemunculan Kerupuk Renjul di Soreang 
"Makanan ringan (Inggris: Snack) adalah istilah bagi makanan yang bukan merupakan menu pelengkap (makan pagi, makan siang atau makan malam). Makanan yang dianggap makanan ringan adalah: sesuatu yang dimaksudkan untuk menghilangkan rasa lapar seseorang sementara waktu, memberi sedikit suplai energi ke tubuh, atau sesuatu yang dimakan untuk dinikmati rasanya".
(dunia makanan.com)
Memakan makanan ringan di Indonesia mulai populer saat dikenalkan oleh Belanda pada jaman penjajahannya. Makanan ringan di jaman itu dinikmati saat minum teh di sore hari berupa kue-kue basah. Snack saat ini tersedia dalam berbagai jenis, baik kue, cookies atau kue kering, juga makanan ringan siap konsumsi yang diproduksi di pabrik-pabrik yang banyak beredar di toko-toko, dan tidak lagi dikonsumsi di sore hari namun di berbagai waktu baik pagi, siang ataupun malam.
Jenis-jenis makanan ringan pun bervariasi dari tiap daerah, ada kue, roti, kerupuk, keripik dan lain sebagainya. Di daerah soreang, kab bandung terkenal dengan makanan ringan berupa kerupuk. Kerupuk atau krupuk adalah makanan ringan yang dibuat dari adonan tepung tapioka dicampur bahan perasa seperti udang atau ikan. Kerupuk dibuat dengan mengukus adonan sebelum dipotong tipis-tipis, dikeringkan di bawah sinar matahari dan digoreng dengan minyak goreng yang banyak.
Kerupuk bertekstur garing dan sering dijadikan pelengkap untuk berbagai makanan Indonesia seperti nasi goreng dan gado-gado.
Kerupuk udang dan kerupuk ikan adalah jenis kerupuk yang paling umum dijumpai di Indonesia. Kerupuk berharga murah seperti kerupuk aci atau kerupuk mlarat hanya dibuat dari adonan sagu dicampur garam, bahan pewarna makanan, dan vetsin.
Kerupuk biasanya dijual di dalam kemasan yang belum digoreng. Kerupuk ikan dari jenis yang sulit mengembang ketika digoreng biasanya dijual dalam bentuk sudah digoreng.
Kerupuk kulit atau kerupuk ikan yang sulit mengembang perlu digoreng sebanyak dua kali. Kerupuk perlu digoreng lebih dulu dengan minyak goreng bersuhu rendah sebelum dipindahkan ke dalam wajan berisi minyak goreng panas.
Kerupuk kulit (kerupuk jangek) adalah kerupuk yang tidak dibuat adonan tepung tapioka, melainkan dari kulit sapi atau kerbau yang dikeringkan.
      Kerupuk renjul adalah jenis kerupuk yang berasal dari tapioca yang masak dengan cara disangrai menggunakan pasir didalam wajan besi besar yang di panaskan diatas tunggku kayu bakar yang masih sederhana. Pencetakannya pun masih dilakukan manual dengan cara pengepresan dengan alat yang terbuat dari kayu. Pengepresannya sendiri dingunakan dengan menggunakan pengungkit sederhana dan pemberat batu yang ditampung dalam wadah kayu. Kerupuk ini awalnya ada di wilayah Situ aksan andir Kotamadya Bandung pada tahun 1960an dan ketika terjadi penggusuran di wilayah ini kerupuk ini akhirnya hilang di wilayah tersebut.
     Penyebab kerupuk ini sampai di soreang adalah karena pengusaha dari Situ aksan ini yang namanya tidak kami dapatkan informasinya ini mendirikan pabrik krupuknya di wilayah Kampung bunikasih kecamatan soreang kabupaten bandung dan masih mempertahankan cara produksinya yang lama. Wilayah ini setelah pemisahan pada tahun 2009 berubah menjadi wilayah regional kecamatan Kutawaringin. Selain berubah tempat prodiksi kerupuk di sini mengalami sedikit modifikasi dari yang awalnya dibumbui dengan minyak kelapa, bawang merah dan gula merah, kerupuk ini ditambah dengan formula pedas dari bubuk cabe, dan selanjutnya krupuk ini menjadi trademark dari soreang. Karena modifikasi kerupuk ini mendapat respon positif dari warga sekitar. Hal ini mungkin karena wilayah bandung terutama bandung raya adalah wilayah yang beriklim dingin sehingga makanan bercitarasa pedas sangat digemari. Selain itu tidak adanya kerupuk dengan citarasa pedas waktu itu bias dibilang modifikasi ini adalah inovasi baru bagi perkembangan krupuk di wilayah ini. 

2.2. Faktor yang menyebabkan perkembangan produksi krupuk renjul di Soreang.
Industri kerupuk di Soreang mulai diperhitungkan keberadaannya sejak tahun 1982, tepatnya ketika pertama kali kerupuk tersebut dikasih pemedas rasa (lada). Menurut narasumber yang kami wawancarai, dengan dikasihnya pemedas rasa tersebut merupakan terobosan baru yang orang lain belum melakukannya dan puncak dari industri kerupuk ini sekitar tahun 1984-1986 dimana produksi kerupuk ini laku keras dan ditunggu para konsumen baik itu secara eceran maupun secara grosir. Banyak didirikan bangunan-bangunan khusus industri kerupuk ini yang bangunannya itu terpisah dari rumah tinggal, biasanya di samping atau di depan rumah. Pemasaran kerupuk ini sampai daerah Jabodetabek bahkan sempat juga sampai ke Lampung karena ada saudara yang buka cabang di Lampung, alat-alat dan resepnyapun dibawa dari Soreang.
Karyawan yang bekerja diindustri kerupuk Soreang pada saat itu tidak hanya dari warga sekitar namun ada juga yang dari luar daerah seperti dari Sumedang yang pada perkembangan selanjutnya karyawan tersebut buka usaha kerupuk sendiri di Sumedang, yang pada akhirnya secara langsung atau tidak langsung mempersempit pemasaran dari produksi kerupuk itu sendiri.
Menurut sumber yang kami wawancarai, hasil produksi kerupuk Soreang ini juga bahkan dipasarkan langsung oleh para pemilik pabriknya sehingga mereka tahu bagaimana seluk beluk keadaan pasar atau naik turunnya pemasaran kerupuknya. Tidak heran jika dalam waktu satu bulan saja mereka sanggup membeli sebuah sepeda motor dari penghasilan industri kerupuknya tersebut. Keadaan seperti ini bertahan sampai sekitar tahun 1990-an sebelum terjadinya krisis moneter di Indonesia, dan naiknya minyak sayur sedikit mempengaruhi kelancaran industri kerupuk ini, alhsil ada yang terus bertahan dengan menggunakan pasir (sangrai) dan ada sebagian yang gulung tikar. Diperparah seteleh tahun 2000-an bahan-bahan baku pembuatan kerupuk naik semua, seperti tepung kayu bakar dan lain sebagainya.

2.3. Faktor yang menyebabkan kemunduran produksi kerupuk renjul di Soreang.
Dalam perjalanannya industri kerupuk renjul tersebut mengalami fluktuasi. Dalam waktu - waktu tertentu ada “di atas”, juga dalam waktu - waktu tertentu ada “di bawah”. Tentunya dengan sebab - sebab tertentu. Juga menyinggung aspek - aspek tertentu pula. Sebenarnya jika dihitung - hitung secara matematis, maka keuntungan dari usaha kerupuk tersebut sangatlah besar. Bahkan ada anekdot bahwasannya dalam sekarung kerupuk yang sudah matang dan siap di kirim ke agen untuk kemudian diproses lebih lanjut (dalam usaha kerupuk yang ada di daerah tersebut sebagian besar hanya sampai pada proses penggorengan kerupuk, tanpa proses pembumbuan atau proses pembungkusan), maka menghasilkan satu gram emas, namun tentunya itu dalam satu waktu tertentu. Menurut narasumber, perlu di ingat bahwasannya sekitar 27 tahun yang lalu (tepatnya tahun 1984an), usaha kerupuk di daerah tersebut adalah mayoritas.
Telah dikatakan bahwasannya usaha kerupuk renjul ini sudah ada sekitar tahun 1960an. Dalam kurun waktu tahun 1960an, dapat dikatakan usaha kerupuk tersebut stabil, walaupun belum dikatakan maju, atau mencapai “puncak kejayaannya”. Mengenai penurunan, narasumber menyatakan bahwasannya usaha kerupuk kerembil di daerah tersebut mengalami penurunan yang sangat drastis dua tahun setelah presiden Soeharto lengser dari jabatannya sebagai presiden. Perlu dahulu di informasikan bahwa bahan dasar dari kerupuk tersebut adalah tepung tapioka dan garam, direbus menggunakan air, dan digoreng menggunakan pasir. Ketika lengsernya presiden soeharto tersebut, harga tepung tapioka tidak mengalami kenaikan yang signifikan. Sedangkan harga minyak goreng melambung tinggi. Otomatis saingan pun (produk kerupuk lain yang menggunakan minyak goreng untuk menggorengnya) berkurang pada waktu itu, bahkan dapat dikatakan tidak ada. Tetapi setelah dua tahun setelah lengsernya presiden Soeharto, harga tepung tapioka mengalami kenaikan harga yang signifikan. Sebab lain dari surutnya usaha kerupuk tersebut adalah banyaknya saingan yang sama - sama memproduksi kerupuk yang sejenis pada daerah masing - masing, karena kerupuk kerembil adalah kerupuk khas daerah tersebut. Lebih lanjut narasumber mengatakan bahwasannya orang - orang yang pernah bekerja pada usaha kerupuk tersebut mendirikan usaha yang sama di daerah masing - masing, walaupun tidak banyak, karena sebagian besar para pegawai tersebut adalah keluarga sendiri. Singkatnya pada waktu itu banyak para pengusaha kerupuk renjul yang gulung tikar. Walupun masih ada yang bertahan sampai sekarang.
Telah diuraikan di atas bahwasannya sebelum mengalami kebangkrutan warga masyarakat di daerah tersebut sebagian besar adalah pengusaha (kecil) kerupuk renjul. Namun ketika dalam kurun waktu dua tahun sesudahnya, harga bahan baku kerupuk naik drastis, akibatnya pengusaha banyak yang gulung tikar. Akibatnya tentu pada keadaan ekonomi warga masyarakat. Tidak ada lagi anekdot “satu karung sama dengan satu gram emas”. Banyak tempat - tempat yang sebelumnya adalah tempat pembuatan kerupuk sekarang seolah - olah menjadi gudang. Perubahan kegiatan perekonomian tentunya terlihat jelas, yang awalnya sumber perekonomian adalah dari usaha kerupuk, saat ini mencari dari apa saja yang ada, mengingat sawah atau lahan yang ada sudah dimiliki oleh pengusaha - pengusaha dari luar daerah bahkan luar negara. Pekerjaan sekarang yang digeluti selain sebagian kecil pengusaha kerupuk renjul  adalah diantaranya buruh tani, buruh bangunan, buruh pabrik/industri, pedagang asongan, sebagian kecil merantau, dan sebagainya. Sampai pada bahaya anak cucu mereka, generasi sekarang yang mengkhawatirkan keadaan seperti sekarang akan terus menerus. Walaupun masih ada sebagian kecil pengusaha kerupuk, namun kendala cuaca pun dapat menghambat. Dan akibatnya adalah kerupuk yang rencananya akan di kirim, tidak sesuai dengan apa yang direncanakan. Lebih dari itu, bahkan kerupuk mentah akan basi apabila terlalu lama jika tidak di jemur dengan panas alami (sinar matahari). Tentunya ini akan mengakibatkan kerugian.

2.4.Dampak social ekonomi dari dinamika perkembangan kerupuk renjul bagi masyarakat di soreang.
Walau telah ada sejak tahun 1960an kerupuk ini baru memiliki dampak bagi warga soreang dalam hal ini pengusaha kerupuk di wilayah kampung bunikasih pada tahun 1982 ketika pabrik kerupuk pertama didirikan oleh pengusaha kerupuk asal wilayah situ aksan bandung.
Dalam dinamika perkembangannya kami mengambil priode tahun sebagai berikut :

1)      1982-1984 sebagai periode awal
krupuk renjul baru muncul di wilayah ini dan hanya terdapat satu pabrik yang mengelola usaha krupuk renjul ini. Pabrik ini rutin menyetorkan hasil produksinya ke wilayah pasirkoja untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah bandung raya. Dan dampak ekonomi belum terasa pada priode ini. Penduduk sekitar saat itu bermata pencaharian kebanyakan warganya adalah sebagai kuli bangunan atau petani kontrak yang tidak memiliki sawah.

2)    1984-1998 sebagai priode keemasan.
Setelah kerupuk ini mendapatkan minat dan animo dari konsumen setelah diberi formula pedas, kerupuk jenis ini mengalami permintaan yang banyak pada saat itu. Sehingga pada priode tersebut banyak warga yang bekerja sebagai di pabrik-pabrik kerupuk bahkan industry krupuk di sini seolah menjamur hingga kampung-kampung sekitarnya di wilayah desa jatisari ini.
Karena banyaknya produksi, pabrik yang tadinya mengolah krupuk untuk didistribusikan ke wilayah pasirkoja untuk dijual perlahan-lahan meluas menjadi usaha rumahan. Dan banyak akhirnya muncul penjual dan pengusaha krupuk pedas rumahan. Hal yang patut dicatat pabrik krupuk ada yang langsung membumbui krupuknya sebelum didistribusikan, adapula yang memproduksi secara polos. Hal ini mendorong banyak pengusaha krupuk rumahan yang membeli bahan baku krupuk polos dan bumbu-bumbu saja yang dikelola oleh keluarga. Tak ayal banyak keluarga di wilayah desa jatisari khususnya kampong buni kasih yang menekuni profesi sebagai pedangang krupuk dan ada yang sampai meninggalkan pekerjaan.a sebagai petani dan kuli. Bahkan tak sedikit dari mereka yang bisa membeli tanah puluhan tumbak.
Secara social peningkatan ekonomi ini tidak didukung dengan peningkatan intelektual. Hal ini dapat dilihat dari pola piker masyarakat cenderung matrelaistis yang memikirkan uang semata. Tak disadari hal ini menjauhkan mereka dari apa yang dinamakan pendidikan.
Masyarakat wilayah itu umumnya cenderung meyuruh anaknya untuk bekerja mencari uang berdangang kerupuk disbanding dengan belajar. Memang dari segi materil mereka berada di atas rata-rata namun dari sumberdaya manusia wilayah ini tergolong tertinggal nantinya.
3)      Periode keemasan ke 2
Pada masa akhir orde baru tahun 1998 ketika Indonesia mengalami krisis monetaire di mana harga-harga melambung tinggi, banyak pengusaha kerupuk yang gulung tikar karena harga minyak goreng dan minyak tanah naik. Namun hal itu tidak berlaku bagi kerupuk renjul. Hal ini karena kerupuk ini menggunakan cara masak tradisional di mana proses pengolahan tidak menggunakan minyak. Dari bahan bakar menggunakan kayu bakar bukan minyak tanah, pencetakan kerupuk sendiri menggunakan teknologi mekanik tradisional buka dengan mesin. Dan dalam proses masak menggunakan pasir untuk menyangrai bukan menggunakan minyak. Wajar saja jika krupuk ini mendapat omset yang besar karena tidak mengalami kendala yang berarti dari kenaikan harga waktu itu.
Secara social ekonomi masyarakat sekitar mengalami kenaikan financial kembali.

4)      Periode kemunduran 2004-sekarang
Pada tahun 2004 barulah usaha ini mendapat cobaan. Ketika harga tapioca naik. Seperti yang dijelaskan pada bagian sebelumnya. Banyaknya pedagang dan pengusaha nakal yang menjatuhkan harga krupuk renjul ini dengan cara mencampur bahan baku tapioka dengan ampas tahu, selain itu saat harga gula dan bahan lain naik bahan baku bumbu-bumbu krupuk ini diganti dengan bahan kimia seperti pewarna makanan dan sodium sebagai pengganti gula. Selain itu maraknya makanan ringan jenis krupuk dengan citarasa pedas yang beredar saat itu perlahan menggeser kejayaan krupuk renjul ini.
           Pada saat itulah banyak warga yang menjual hartanya untuk menutup kerugian dan masyarakat yang tidak punya keahlian lain selain sebagai kuli dan petani kembali ke profesi awalnya. Dan anak-anak baik yang putus sekolah atau yang tidak bersekolah Karena berjualan krupuk banyak yang menjadi pengangguran. Dan program pemerintah yang ingin menjadikan wilayah pertanian menjadi wilayah proyek pengembangan olahraga menambah parah kondisi perekonomian masyarakat. Karena wilayah proyek ini melibas tanah milik penduduk.
Bayangkan saja ketika produksi krupuk jatuh dan mengalami kerugian, satu-satunya asset yang mereka miliki yakni tanah, harus mereka jual dengan harga murah kepada pemerintah untuk meluluskan proyeknya. Ditambah lagi sumberdaya manusia yang kurang terasah keahliannya menambah buruk kondisi masyarakat.

BAB III
KESIMPULAN

            Dari hasil penelitian kami dapat kami simpulkan bahwa pada tahun 1982- 2004 terjadi peningkatan produksi kerupuk renjul dari wilayah soreang. Krupuk ini awalnya berasal dari wilayah situ aksan kota bandung namun belum memiliki cita rasa pedas namun ketika sentra produksi dipindahkan ke soreang tepatnya di wilayah kampong buni kasih soreang. barulah kerupuk ini memiliki rasa pedas dan permintaan kerupuk ini kemudian melejit.
            Karena permintaan yang begitu banyak. Maka di wilayah dengan waktu singkat berubah menjadi sentra pembuatan krupuk renjul bahkan bukan hanya di kampung bunikasih saja bahkan ke kampong-kampung lain di wilayah desa jatisari. Seiring meningkatnya produksi maka meningkat pula perekonomian wilayah ini bahkan ketika krisis monetaire tahun 1998 kerupuk ini masih Berjaya dan memberikan omzet yang besar bagi masyarakat. Hal ini karena bahan baku produksi seperti tapioca belum naik pada saat itu. Walaupun waktu itu BBM dan minyak goreng naik namun karena proses pembuatannya masih menggunakan cara tradisional dengan kayu bakar dan pengolahan yang disangrai dengan pasir.
            Pada tahun 2000 ketika harga tapioca naik barulah produksi krupuk ini mengalami petaka. Banyak pengusaha-pengusaha nakal yang menjatuhkan harga pasaran. Bahkan bahan baku tapioca dicampur dengan ampas tahu untuk meningkatkan kuantitas krupuk dan menurunkan kualitasnya. Bahkan ketika cabe mahal dan langka para pedagang menggunakan pewarna makanan dan pemanis buatan untuk meningkatkan produksi dan keuntungan.
            Tahun 2004 menjadi titik balik kejayaan industri krupuk ini. Di mana pada tahun tersebut banyak industry krupuk yang gulung tikar karena kalah bersaing dengan industry kerupuk di sekitarnya. Dan karena masyarakat kampong bunikasih dan kampong sekitarnya tidak memiliki keahlian khusus selain bertani dan menjadi kuli bangunan. Maka kejayaan kerupuk ini berakhir. Selain itu dengan munculnya banyak krupuk pedas semakin membuat industry ini mengalami kemunduran. Saat ini hanya ada beberapa pabrik krupuk saja yang masih aktif. Hal ini juga berdampak pada kondisi social ekonomi di wilayah itu yang jatuh miskin semenjak industry ini jatuh. Hal ini diperparah dengan kurangnya keahlian lain dari masyarakat selain bertani dan jadi kuli bangunan dan bahkan banyak pula pengangguran yang berkeliaran.

DAFTAR PUSTAKA



 Gambar 1
Krupuk Renjul dengan Bumbu

Gambar 2
Pabrik Kerupuk Renjul

  Gambar 3
Tempat mencampur adonan dan tepung tapioka


  Gambar 4
Alat cetak Krupuk Renjul

Gambar 5
Kuali untuk mengukus adonan krupuk basah

Gambar 6
Kuali untuk menyangrai yang berisi pasir dan adonan krupuk yang sudah dijemur sampai kering

Silahkan berkomentar pada kolom di bawah ini :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar