Kamis, 09 Februari 2012

PENANGGULANGAN BANJIR DI INDONESIA


Oleh : 
Fajar  Desca Nugraha - Wisnu Adam Alfiqri - Hasan Basri
Mahasiswa Pendidikan Sejarah 2009

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah

Mengutip pernyataan Sobikin Seorang, anggota Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda, dan Bandung Spirit dalam pikiran rakyat online yang saya dapatkan di http://bataviase.co.id/content/penanggulangan-banjir-i
“Banjir datang, selalu terjadi saling menuding tentang siapa yang salah. Di lain pihak, para ahli cendekia lalu sibuk mengeluarkan pendapat tentang apa dan mengapa terjadi banjir. Ketika banjir surut, perhatian akan banjir ikut surut pula. Kemudian ribut-ribut lagi ketika musim berganti dan banjir datang berulang…”
Dari tulisan di atas terlihat sebuah ketidak seriusan penanggulangan banjir baik itu dari pemerintah dan juga masyarakat. Yang ada hanyalah protes yang dilakukan kepada pemerintah ketika terjadi banjir saja apa bila tidak terjadi banjir masyarakat dan pemerintah pun kembali bungkam.
Dalam makalah ini menyajikan langkah-langkah pencegahan dan penanggulangan banjir yang insya Allah dapat dijadikan solusi penanggulangan banjir.

1.2  Rumusan Penulisan

1.      Apa itu pengertian dan apa saja penyebab banjir?
2.      Bagaimana cara penanggulangan banjir ketika banjir terjadi?
3.      Bagaimana cara pencegahan banjir?


1.3  Tujuan Penulisan

4.      Mengerti pengertian dan apa saja penyebab banjir.
5.      Mengetahui bagaimana cara penanggulangan banjir ketika banjir terjadi.
6.      Mengetahui cara pencegahan banjir.

1.4  Metode Penulisan

Penulisan makalah ini menggunakan  teknik Kajian Berdasarkan sumber internet.

1.5   Sistematika Penulisan

BAB I    PENDAHULUAN
1.1        Latar Belakang
1.2        Rumusan Masalah
1.3        Tujuan Penulisan
1.4        Metode Penulisan
1.5        Sistematika Penulisan
BAB II  LANDASAN TEORI
BAB III PEMBAHASAN
3.1.      Pengertian dan penyebab banjir?
3.2.      Cara penanggulangan banjir ketika banjir terjadi?
3.3.      Cara pencegahan banjir?

BAB IV PENUTUP
4.1.      Kesimpulan
4.2.      Saran
 
BAB II
LANDASAN PIKIRAN

2.1              Banjir merupakan bencana yang merugikan, karena banjir dapat merusak kesehatan  (ISPA, Diare, dan penyakit lainnya) dan mengganggu aktifitas manusia.
2.2              Penanggulangan yang tepat dapat mencegah jatuhnya korban lebih banyak.
2.3              Pencegahan lebih baik dari pada menanggulangi.

 BAB III 
PEMBAHASAN

3.1.Pengertian dan Penyebab Banjir

3.1.1    Pengertian Banjir
“Banjir merupakan peristiwa terbenamnya daratan (yang biasanya kering) karena volume air yang meningkat. Banjir dapat terjadi karena peluapan air yang berlebihan di suatu tempat akibat hujan besar, peluapan air sungai, atau pecahnya bendungan sungai..” (www.g-excess.com)
Di banyak daerah yang gersang di dunia, tanahnya mempunyai daya serapan air yang buruk, atau jumlah curah hujan melebihi kemampuan tanah untuk menyerap air. Ketika hujan turun, yang kadang terjadi adalah banjir secara tiba-tiba yang diakibatkan terisinya saluran air kering dengan air. Banjir semacam ini disebut banjir bandang.

3.1.2 Penyebab Banjir
Menurut sumber yang saya dapatkan dari situs (satlakpb.tangerangkota.go.id) sedikitnya ada 8 penyebab banjir, yaitu :
1)      Curah hujan dalam jangka waktu panjang
2)      Erosi tanah menyisakan batuan, hingga tidak ada resapan air.
3)      Buruknya penanganan sampah, hingga sumber saluran-saluran air tersumbat.
4)      Pembangunan tempat permukiman dimana tanah kosong diubah menjadi jalan / tempat parkir, hingga daya serap air hujan tidak ada.
5)      Bendungan  dan saluran air rusak.
6)      Keadaan tanah tertutup semen, paving atau aspal, hingga tidak menyerap air.
7)      Pembabatan hutan secara liar (Illegal logging).
8)      Di daerah  bebatuan  daya  serap  air  sangat  kurang, mengakibatkan banjir kiriman atau banjir bandang.
 3.2.Cara Penanggulangan Banjir Saat Banjir Terjadi

Mengutip pernyataan Sobikin Seorang, anggota Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda, dan Bandung Spirit dalam pikiran rakyat online yang saya dapatkan di (bataviase.co.id/), Sobikin mengkategorikan Metode penangulangan secara filosofis dan normative, yakni :

3.2.1. Metode Penangulangan secara Filosofis

Secara filosofis, ada tiga metode penanggulangan banjir. Pertama, memindahkan warga dari daerah rawan banjir. Cara ini cukup mahal dan belum tentu warga bersedia pindah, walau setiap tahun rumahnya terendam banjir. Kedua, memindahkan banjir keluar dari warga. Cara ini sangat mahal, tetapi sedang populer dilakukan para insinyur banjir, yaitu normalisasi sungai, mengeruk endapan lumpur, menyodet-nyodet sungai. Faktanya banjir masih terus akrab melanda permukiman warga. Ketiga, hidup akrab bersama banjir. Cara ini paling murah dan kehidupan sehari-hari warga menjadi aman walau banjir datang, yaitu dengan membangun rumah-rumah panggung setinggi di atas muka air banjir.

3.2.2. Metode Penangulangan secara Normatif

Secara normatif, ada dua metode penanggulangan banjir. Pertama, metode struktur, yaitu dengan konstruksi teknik sipil, antara lain membangun waduk di hulu, kolam penampungan banjir di hilir, tanggul banjir sepanjang tepi sungai, sodetan, pengerukan dan pelebaran alur sungai, sistem polder, serta pemangkasan penghalang aliran.
 Anggaran tak seimbang Dalam pertemuan-pertemuan antarpemangku kepentingan (stakeholder) tentang penanggulangan banjir, telah ada political will dari pemerintah, yaitu akan melaksanakan penanggulangan banjir secara hibrida, dengan melaksanakan gabungan metode struktur dan non-struktur secara simultan. Bahkan, telah dibuat dalam perencanaan jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Namun, dalam implementasinya, penanggulangan banjir yang dilakukan pemerintah masih sangat sektoral, alokasi anggaran antarsektor tidak seimbang. Anggaran penanggulangan banjir metode struktur alias konstruksi teknik sipil lebih besar dibandingkan dengan anggaran metode nonstruktur yang lebih berbasis masyarakat.
Padahal, penanggulangan banjir dengan metode nonstruktur berbasis masyarakat tidak kalah pentingnya. Pertama, berupa manajemen di hilir di daerah rawan banjir, antara lain pembuatan peta banjir, membangun sistem peringatan dini bencana banjir, sosialisasi sistem evakuasi banjir, kelembagaan penanganan banjir, rekonstruksi rumah akrab banjir, peningkatan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam penanggulangan banjir, serta kemungkinan asuransi bencana banjir.
Kedua, berupa manajemen di hulu daerah aliran sungai, antara lain pengedalian erosi, pengendalian perizinan pemanfaatan lahan, tidak membuang sampah dan limbah ke sungai, kelembagaan konservasi, pengamanan kawasan lindung, peningkatan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam kegiatan konservasi.
 3.3.Cara Pencegahan Banjir

Dalam www.anneahira.com dijelaskan beberapa cara mencegah banjir, diantaranya :
3.3.1        Disiplin Membuang Sampah
Dibutuhkan kedisiplinan warga untuk membuang sampah di tempat sampah dan berakhir di tempat pembuangan akhir sampah. Pengolahan sampah di tempat pembuangan akhir sampah ini akan sangat diperlukan.
Pengolahan sampah yang tepat bisa membantu pencegahan banjir. Sampah-sampah plastik yang kecil jika terkena hujan deras akan ikut aliran air sampai sungai. Ini juga akan menjadi penyebab terjadinya banjir.
Tentu saja harus ada pemilahan dan pengolahan yang tepat. Misalnya, dibedakan antara sampah yang harus dibakar. Sampah yang harus ditumpuk dan didaur ulang, sampah yang ditumpuk untuk dijadikanpupuk.
3.3.1.   Pembersihan Saluran Air
Perbaikan-perbaikan dan pembersihan saluran air tentu harus ada. Diwilayah tertentu bisa diadakan secara gotong-royong. Penjagaan ini harus dilakukan secara terus-menerus dengan waktu berkala. Bukan hanya sampah yang terbuang di saluran air, namun ada juga sampah dari saluran air.
Tumbuhan-tumbuhan air yang telah mati jika berkumpul juga akan menghambat saluran air. Tanggul-tanggul sebagai penahan membutuhkan perawatan. Tanaman-tanaman sekitar sungai pun perlu ditanam sebanyak mungkin yang fungsinya untuk memperkuat bantaran sungai. Tentu saja bantaran sungai yang kuat ini akan mencegah longsornya tanah di bantaran ke sungai. Jika longsor, pun akan menghambat air mengalir. Itu juga akan menyebabkan banjir.
3.3.3.   Kerja Sama yang Baik dari Seluruh Pihak
Bila kerja sama warga di suatu wilayah dapat terjalin dengan baik, pencegahan banjir ini bisa dilakukan dengan mudah. Tentu saja jalinan warga dan pemerintah tetap harus dilakukan. Bila ada pembangunan di suatu wilayah oleh proyek tertentu dan hal itu akan mengganggu lancarnya saluran air, tentu warga harus segera melaoprkan kepemerintah untuk diadakan sebuah tindakan yang tepat.
Jika langkah-langkah yang ditempuh masih belum bisa mencegah banjir karena banjir yang datang merupakan banjir kiriman atau murni sebuah bencana karena hujan yang deras tak henti-henti, hendaknya kita tak perlu melempar kesalahan.
Kesadaran yang tinggi yang diperlukan untuk suatu pencegahan dan penanggulangan bencana banjir. Bukan malah menyalahkan pihak tertentu karena sebuah bencana itu untuk ditangani dan ditanggulangi bukan malah mencari kambing hitam dari bencana tersebut.
 3.4.Inovasi Menghadapi Banjir
3.4.1.   Rumah akrab banjir
Menurut sumber yang saya dapatkan dari bataviase.co.id tentang cara pencegahan banjir, hingga dekade yang lalu, cita-cita para ahli banjir masih terus mengumandangkan slogan "bebas banjir" dengan memaksakan teknologi untuk melawan banjir, antara lain sodetan, tanggul sungai, bendungan, dan sebagainya. Namun, dalam diskusi dan publikasi mutakhir tentang manajemen bencana banjir, terjadi perubahan paradigma. Di Vietnam, khususnya warga yang hidup di DAS Mekong, \-ang semula bermimpi untuk bebas dari banjir (free from flood), akhirnya memutuskan hidup bersama banjir [living with flood), antara lain dengan mengubah rumah-rumah mereka menjadi rumah panggung.
Saat ini, banyak institusi penelitian yang melakukan penelitian konsep rumah akrab banjir, salah satunya Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman (Puskim), di Jalan Pa-nvaungan. Cileunyi Wetan, Kabupaten Bandung. Ada yang unik dari desain rumah akrab banjir kreasi peneliti Puskim ini, bukan berupa rumah panggung, tetapi rumah apung, yang bisa naik turun sesuai ketinggian banjir. Apa pun desainnya, sebaiknya kreasi para peneliti ini segera diimplentasikan di daerah rawan banjir bekerja sama dengan dunia usaha.
Mengajak masyarakat membangun rumah panggung merupakan tantangan tersendiri, selain perlu uang ekstra untuk rekonstruksi rumah, juga perlu sosialisasi membiasakan diri hidup di rumah panggung. Namun, cara hidup akrab bersama banjir seperti ini relatif lebih murah dan berkelanjutan dibandingkan dengan cara relokasi maupun penerapan metode teknologi penanggulangan banjir yang belum tentu berhasil.
Tentunya komitmen hidup akrab bersama banjir, tetap dilandasi semangat tidak melanggar peraturan yang berlaku. Misalnya Perda Provinsi Jawa Barat Nomor 2 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung yang mengamanatkan perlunya perlindungan terhadap sempadan sungai untuk melindungi fungsi sungai dari kegiatan manusia yang dapat mengganggu dan merusak kondisi sungai serta mengamankan aliran sungai. Salah satu criteria sempadan sungai disebutk; sekurang-kurangnya tiga puluh meter dihitung dari tepi sungai untuk sungai yang tidak ber-tanggul. Penanggulangan banjir memang kompleks, apalagi masyarakat tidak diajak berperan, jadi memang pantas ada sindiran bahwa sejak tiga dekade lalu telah sejuta rencana, tetapi penanggulangan banjir belum juga berhasil.
3.4.2.  Sumur Resapan di Jakarta
Dari www.bppt.go.id inovasi selanjutnya yang sudah adalah sumur resapan. Pemerintah DKI telah mengatur tentang pembuatan sumur resapan dalam Peraturan Gubernur DKI Jakarta No 68 Tahun 2005 tentang Perubahan Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 115 Tahun 2001 mengenai Pembuatan Sumur Resapan. “Setiap gedung atau bangunan yang menutup permukaan tanah dan usaha industri yang memanfaatkan air tanah permukaan diwajibkan untuk membuat sumur resapan dalam perencanaan pembangunannya”.
Selain itu, fungsi sumur resapan dapat menampung, menyimpan, dan menambah cadangan air tanah serta dapat mengurangi limpasan air hujan ke saluran pembuangan. Hal ini tentu saja selain dapat mencegah terjadinya banjir, air tampungan tersebut dapat dimanfaatkan pada musim kemarau.
 3.4.3 Banjir Kanal di Jakarta
Dari Wikipedia.com inovesi selanjutnya adalah Banjir Kanal Jakarta adalah kanal yang dibuat agar aliran sungai Ciliwung melintas di luar Batavia, tidak di tengah kota Batavia. Banjir kanal ini merupakan gagasan Prof H van Breen dari Burgelijke Openbare Werken atau disingkat BOW, cikal bakal Departemen PU, yang dirilis tahun 1920. Studi ini dilakukan setelah banjir besar melanda Jakarta dua tahun sebelumnya. Inti konsep ini adalah pengendalian aliran air dari hulu sungai dan mengatur volume air yang masuk ke kota Jakarta. Termasuk juga disarankan adalah penimbunan daerah-daerah rendah.
 
BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan


Ada beberapa cara menanggulangi banjir, diantaranya :
Pertama metode struktur, yaitu dengan konstruksi teknik sipil, antara lain membangun waduk di hulu, kolam penampungan banjir di hilir, tanggul banjir sepanjang tepi sungai, sodetan, pengerukan dan pelebaran alur sungai, sistem polder, serta pemangkasan penghalang aliran.
Kedua, berupa manajemen di hilir di daerah rawan banjir, antara lain pembuatan peta banjir, membangun sistem peringatan dini bencana banjir, sosialisasi sistem evakuasi banjir, kelembagaan penanganan banjir, rekonstruksi rumah akrab banjir, peningkatan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam penanggulangan banjir, serta kemungkinan asuransi bencana banjir.
Rumah akrab banjir Hingga dekade yang lalu, cita-cita para ahli banjir masih terus mengumandangkan slogan "bebas banjir" dengan memaksakan teknologi untuk melawan banjir, antara lain sodetan, tanggul sungai, bendungan, dan sebagainya. Namun, cara hidup akrab bersama banjir seperti ini relatif lebih murah dan berkelanjutan dibandingkan dengan cara relokasi maupun penerapan metode teknologi penanggulangan banjir yang belum tentu berhasil.

DAFTAR PUSTAKA

Satuan pelaksanaan Pembangunan kota tanggrang [Tersedia Online] http://satlakpb.tangerangkota.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=23:apa-penyebab-banjir-&catid=25:banjir&Itemid=58 (Tanggal update 2 Januari 2011)
Sobikin. Penanggulangan banjir [tersedia online] http://bataviase.co.id/content/penanggulangan-banjir-i. (Tanggal update 2 Januari 2011)
Tn. Banjir Kanal Jakarta [Tersedia Online] http://id.wikipedia.org/wiki/Banjir_Kanal_Jakarta (Tanggal Update : 2 januari 2011)
Tn. Pencegahan Banjir [Tersedia online] http://www.anneahira.com/cara-pencegahan-banjir.htm (Tanggal Update 2 Januari 2011)
Tn. Pengertian Banjir [Tersedia online] http://www.g-excess.com/id/pengetahuan-penyebab-banjir.html (Tanggal update : 2 Januari 2011)

Tn. Sumur resapan solusi pencegahan banjir Jakarta [Tersedia Online] http://www.bppt.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=289:sumur-resapan-solusi-pencegahan-banjir-jakarta&catid=57:teknologi-lingkungan (Tanggal Update : 2 Januari 2011)

Silahkan berkomentar pada kolom di bawah ini :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar