Kamis, 09 Februari 2012

SEJARAH PEREKONOMIAN INDONESIA (NUSANTARA) : Dari Masa Prasejarah hingga Masa Masuknya Pengaruh Islam



Dalam laporan ini akan dijelaskan tentang perkembanngan ekonomi Indonesia dari masa prasejarah hingga masuknya pengaruh islam. Dalam penyusunan laporan ini kami menggunakan dua teori pendekatan. Namun secara keseluruhan kami menggunakan yang pertama adalah teori pendekatan von Pillogovich yang membagi perkembangan ekonomi dalam tiga fase, yaitu :
·         Fase kesatu, rumah tangga terikat local.
·         Fase kedua, rumah tangga terikat nasional.
·         Fase ketiga, rumah tangga tukar menukar bebas.

1.      MASA PRASEJARAH (SEBELUM ABAD 4 M)

Masa prasejarah secara keseluruhan adalah masa di mana manusia tergabung dalam kelompok-kelompok kecil yang dipimpin oleh primus interpares. Masing-masing terbagi menjadi tiga bagian yakni masa berburu, masa meramu dan masa perundagian.
 Dari masing-masing masa ini terlihat proses perkembangan ekonomi dari yang bersifat sangat primitif yakni untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari hingga mengenal sistem tukar menukar barang seiring dengan berkembangnya kebutuhan dan intelektualitas manusia pada masa itu.
1.1    Masa Berburu
Masa berburu dalam masa prasejarah yang paling awal dan memiliki karakteristik yang paling sederhana karena kebutuhan manusia pada waktu itu hanya sebatas kebutuhan pangan. Perkakas yang digunakan pada masa ini pun sangat sederhana yakni jenis perkakas paleolitikum seperti kapak perimbas dan kapak tulang (flakes dan pebble). Kapak perimbas yakni batu yang dipecah sehingga ada bagian lancip yang digunakan untuk membunuh binatang.
Selain dari perkakas yang sederhana pada masa ini yang disebut juga masa nomaden. Masa nomaden adalah masa di mana kelompok manusia waktu itu memiliki kebiasaan selalu berpindah-pindah. Hal ini dikarenakan manusia waktu itu sangat bergantung pada hasil alam karena mereka belum dapat mamanipulasi keadaan alam untuk memenuhi kebutuhannya (dengan cara bertani dan berternak). Selain faktor hasil alam kebiasaan ini juga dipengaruhi oleh keadaan alam yang sangat ekstrim dan banyaknya ancaman hewan buas.
Jika dilihat dari keadaan tersebut dipastikan belum dapat dibentuknya sebuah peradaban. Dan jika melihat pendekatan teori von Pillogovich, maka masa berburu ini masuk ke dalam rumah tangga terikat lokal. Hal ini dikarenakan pada masa ini belum ada interaksi yang luas dan heterogen, sebab satu kelompok/suku hanya bergantung pada kelompok/suku itu saja dan belum adanya proses interaksi antar kelompok/suku.
1.2   Masa Meramu
Masa meramu secara keselururuhan adalah masa di mana manusia mulai menetap dan mulai memanipulasi keadaan alam, dimulai dari menjinakan hewan, menanam tumbuhan dan menggabungkan suku-suku kecil. Selanjutnya manusia pada masa ini menyempurnakan perkakasnya ini berkembanglah zaman batu yang tebagi ke dalam masa mesolitikum hingga megalitikum yang dilihat dari hasil kebudayaannya.
Pada masa mesholitikum manusia dari hasil kebudayaannya manusia mulai membuat kapak, anak panah dan tombak batu yang mulai dihaluskan dan disempurnakan bentuknya. Selanjutnya pada masa ini mulai ditemukan tembikar berupa grabah atau perabotan rumah tangga dari tanah liat pada masa ini manusia mulai menetap dalam gua yang disebut abriscius roche  yang di dalamnya ditemukan sampah dapur berupa kjokken mondinger berupa kulit kerang-kerangan. Dan pada masa ini sudah dikenal pakaian dari kain dan perhiasan-perhiasan dari batu-batu obsidian warna-warni (Soekmono 1981 : 39-47).
Walau telah menetap namun pada masa ini manusia belum dapat menanam tanaman dalam satu wilayah yang tetap namun dengan cara ladang berpindah untuk mencari wilayah yang subur, sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya masih menggunakan cara berburu hewan. Namun pada masa ini mulai dikenal cara menjinakan hewan yang digunakan untuk berburu seperti yang digunakan saat ini oleh suku dayak dan papua pedalaman yang menggunkan sistem ladang berpindah yang menggunakan anjing untuk berburu.
Jika dilihat dari pehiasan-perhiasan, pakaian dan tembikar yang ditemukan masyarakat pada waktu sudah berkembang kebutuhannya dari yang hanya membutuhkan kebutuhan pangan saja hingga memerlukan kebutuhan sandang dan papan.
Pada masa neolitikum kita kembali lagi pada perkakas kapak. Jika dilihat dari bentuknya kapak ini sudah benar-benar halus dan sempurna. Dari jenisnya kapak pada masa ini dibagi dua bentuk berdasarkan  penyebarannya yang mendominasi wilayah nusantara yakni kapak lonjong dan kapak persegi.


1.      Kapak Persegi

kapak yang ditemukan oleh von Heine geldern ini memiliki bentuk persegi atau trapezium yang agak melengkung dan memiliki tungkai. Kapak ini tersebar di wilayah Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan kepulauan nusa tenggara. Diperkirakan kapak ini berasal dari daratan asia melalui jalan barat, karena kapak jenis ini ditemukan pula di wilayah Malaysia semenanjung dan hindia belakang (Soekmono 1981 : 50-51).

2.      Kapak Lonjong
Kapak lonjong ini ditemukan di wilayah papua dan Sulawesi utara yang bentuknya lonjong menyerupai bulat telur yang terbagi dalam dua ukuran, yakni walzeinbeil untuk ukuran besar dan kleinbeil untuk ukuran kecil. Kapak ini disebut pula kapak neolit papua karena diperkirakan berasal dari papua yang menyebar ke wilayah barat laut ke Filipina hingga jepang. (Soekmono 1981 : 53-54).
Pada masa ini masyarakat nusantara diperkirakan telah dapat bercocok tanam. Karena pada masa ini kebiasaan ladang berpindah mulai ditinggalkan. Hal ini dapat dilihat dari berkembangnya bentuk kapak yang semakin sempurna dan halus. Hal ini dikarenakan dari proses pembukaan hutan karena ladang berpindah itu menyebabkan perluasan wilayah yang berimplikasi berkurangnya tanah yang subur yang menyebabkan terhubungnya batas wilayah kelompok satu dan kelompok lainnya yang juga memperluas wilayah karena menggunakan sistem yang sama. Hal ini mengakibatkan penggabungan beberapa kelompok kecil menjadi satu kelompok besar yang dijelaskan dalam gambar sebagai berikut :

 


·         Gambar 1, kelompok kecil A dan kelompok kecil B.
·         Gambar 2, kedua kelompok memperluas wilayah dengan sistem ladang berpindah.
·         Gambar 3, kedua kelompok bergabung menjadi satu kelompok besar, begitu seterusnya.
 Setelah bergabung mulailah ada sistem barter dalam satu kelompok besar antara kelompok kecil. Hal ini dipengarui oleh proses interaksi antara dua kelompok yang berbeda yang mengakibatkan proses saling membutuhkan. Kita ambil perumpamaan sebagai berikut :
 Kelompok A adalah kelompok/suku yang berasal dari pengunungan dan kelompok B berasal dari pantai. Kelompok A punya Singkong dan kelompok B punya garam. Setelah kedua kelompok ini bergabung maka ada suatu proses eksperimental yang mengakibatkan ketertarikan antar kedua kelompok yang selanjutnya kedua kelompok ini saling melengkapi dan membutuhkan. Hal ini pun diperkuat dengan kesamaan jenis kapak yang ditemukan di wilayah lainnya yang mengindikasikan adanya proses penyebaran dan akulturasi budaya.
Semakin kelompok itu besar maka semakin banyak interaksi yang dilakukan dalam suatu masyarakat yang mengakibatkan penambahan kekuatan dan keamanan suatu kelompok. Yang hasilnya banyak waktu yang digunakan untuk bereksperimen menyempurnakan perkakas, mengelola tanah dan pengairan untuk dijadikan ladang, dan membangun dan mendesain bangunan yang skelak hal ini akan mengakhiri masa neolitikum dan masuk dalam masa megalitikum.
Pada masa ini jika melihat teori pendekatan Pillogovich pada masa neolitikum ini dapat dilihat perubahan fase dari fase rumah tangga terikat lokal menjadi fase rumah tangga terikat nasional. Hal ini di lihat dari berkumpulnya beberapa kelompok/suku menjadi sebuah republik suku yang cukup besar, di mana selain jenis kebutuhan yang bertambah seiring ditemukannya perkakas dan alat-alat baru, pada masa ini mulai adanya interaksi sosial antar beberapa kelompok yang menjadi satu dengan hasil kebudayaan yang berbeda yang mengakibatkan ketertarikan dan dimulainya proses barter.

1.3    Masa Perundagian
Pada masa perundagian ini mulai dikenalnya proses pembagian tugas dan keahlian membuat benda-benda dan perkakas secara professional.
Pada masa megalitikum hampir semua alat pemuas kebutuhan akan sandang, pangan dan papan berkembang dan dikerjakan oleh masing-masing ahli. Karakteristik masa megalitikum : adanya bangunan-bangunan dari batu besar seperti punden berundak, yoni, tugu batu dan menhir sebagai tempat pemujaan.
Pada masa logam mulai dikenal sistem pembuatan benda dari logam berupa besi dan perunggu. Benda benda ini diantaranya : arca, nekara, moko , beberapa jenis kapak, dll. Dalam proses jual beli umumnya masih menggunakan sistem barter.

 MASA MASUKNYA PENGARUH HINDU BUDHA (ABAD 4 – 7 M)
Indonesia terletak di posisi geografis antara benua Asia dan Eropa serta samudra Pasifik dan Hindia, sebuah posisi yang strategis dalam jalur pelayaran niaga antar benua. Salah satu jalan sutra, yaitu jalur sutra laut, ialah dari Tiongkok dan Indonesia, melalui selat Malaka ke India. Dari sini ada yang ke teluk Persia, melalui Suriah ke laut Tengah, ada yang ke laut Merah melalui Mesir dan sampai juga ke laut Tengah (Van Leur). Perdagangan laut antara India, Tiongkok, dan Indonesia dimulai pada abad pertama sesudah masehi, demikian juga hubungan Indonesia dengan daerah-daerah di Barat (kekaisaran Romawi).
Perdagangan di masa kerajaan-kerajaan tradisional disebut oleh Van Leur mempunyai sifat kapitalisme politik, dimana pengaruh raja-raja dalam perdagangan itu sangat besar. Misalnya di masa Sriwijaya, saat perdagangan internasional dari Asia Timur ke Asia Barat dan Eropa, mencapai zaman keemasannya. Raja-raja dan para bangsawan mendapatkan kekayaannya dari berbagai upeti dan pajak. Tak ada proteksi terhadap jenis produk tertentu, karena mereka justru diuntungkan oleh banyaknya kapal yang “mampir”. (http://onlinebuku.com/2009/03/06/sejarah-perekonomian-indonesia/)
. Dan dari teori von Pillogovich masa ini masuk dalam fase tukar menukar bebas.

2.      MASA MASUKNYA PENGARUH ISLAM (ABAD 7-15)
Penggunaan uang yang berupa koin emas dan koin perak sudah dikenal di masa itu, namun pemakaian uang baru mulai dikenal di masa kerajaan-kerajaan Islam, misalnya picis yang terbuat dari timah di Cirebon. Namun penggunaan uang masih terbatas, karena perdagangan barter banyak berlangsung dalam sistem perdagangan Internasional. Karenanya, tidak terjadi surplus atau defisit yang harus diimbangi dengan ekspor atau impor logam mulia.
Kejayaan suatu negeri dinilai dari luasnya wilayah, penghasilan per tahun, dan ramainya pelabuhan. Hal itu disebabkan, kekuasaan dan kekayaan kerajaan-kerajaan di Sumatera bersumber dari perniagaan, sedangkan di Jawa, kedua hal itu bersumber dari pertanian dan perniagaan. (
http://onlinebuku.com/2009/03/06/sejarah-perekonomian-indonesia/).
Dan dari teori von Pillogovich masa ini pun masih masuk dalam fase tukar menukar bebas.


KESIMPULAN
No.
MASA
VON PILLOGOVICH
FRIEDRICH LIST
1
PRASEJARAH



1)
BERBURU
FASE 1
FASE 1

2)
MERAMU
FASE 2
FASE2 & FASE 3

3)
PERUNDAGIAN
FASE 2
-
2.
HINDU-BUDHA
FASE 3
-
3.
ISLAM
FASE 3
-
Dilihat dari table di atas dapat disimpulkan teori yang cocok diterapkan dalam sejarah perekonomian Indonesia dari masa prasejarah hingga pengaruh islam adalah  teori von Pillogovich. Hal ini dapat kita lihat dari kecocokan antara teori perkembangan ekonominya dengan periodisasi sejarah Indonesia dari masa prasejarah hingga masa pengaruh islam. Karena jika kita lihat teori List pada masa meramu dalam periodisasi sejarah Indonesia mengalami fase menggembala dan bertani bersamaan.


DAFTAR PUSTAKA
Soekmono, R . (1981). Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia I. Yogyakarta : Kanisius

Silahkan berkomentar pada kolom di bawah ini :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar